Ntah mengapa, pagi ini aq tidak bisa tidur. Apakah ini syndrome jk berada di semarang yach? Pasti gini deh kalau aq tinggal d semarang, ndak bisa tidur….he.he.he. Tidur palingan juga 1 mpe 2 jam aja. Ntahlah, yang jelas aq tidak bisa tidur n ku putuskan untuk membuka lepi q krn teringat dengan buku yang q dapati hari ini.
Yuhuy, saat library visiting di perpus Fakultas Tarbiyah tadi ada sebuah buku matematika yang cukup memikat perhatian q. Penyajiannya yang ringan dengan pembahasan yang dalam membuat q ingin membacanya dan terus membacanya hingga akhirnya aq pun berhasil menyelesaikannya, sekitar 7 jam yang lalu.
Membumikan Matematika dari Kampus ke Kampung karya Budi Manfaat, Terbitan Cirebon:Eduvision Publishing, 2010 semakin memperkaya referensi yang mampu memadu padankan antara al-Quran dengan IPTEK, terutama matematika. Dilihat dari judulnya saja, pasti langsung teringat pada buku Membumikan Alquran nya eyang kakung M. Quraish Shihab <<jadi ingat makul tafsir, he.he.he>>. Yach, tidak salah lagi, dalam penulisan buku ini Budi memang terinspirasi dari karya M. Quraish Shihab tersebut. Buku ini ditulis sebagai upaya agar matematika dapat diterima dan difahami, juga dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana agar mereka yang belum tahu tentang matematika menjadi tahu, yang belum mau belajar matematika menjadi mau, yang belum mampu menjadi mampu, dan yang belum merasakan sehingga bisa merasakan manisnya belajar matematika (hl.12).
Dari tidak tau menjadi tau
Bisa jadi, matematika tidak membumi adalah hanya karena belum dikenalkan. Pepatah baru mengatakan, tak kenal maka ta’aruf. Dengan demikian yang harus dilakukan adalah Membukakan, Mengajarkan, Memberikan contoh.
Dari tidak mau menjadi mau
Seseorang yang sudah tahu, belum tentu mau melakukannya. Kemauan adalah berkaitan dengan energi, suatu kekuatan dalam diri seseorang. Karena itu beberapa Upaya yang harus dilakukan adalah Memotivasi, Menguatkan, Melihat Potensi.
Dari tidak mampu menjadi mampu
Mereka yang sudah tahu tentang arti penting matematika dan bertekad untuk mau mendalaminya, harus dibimbing sehingga mampu (menguasai). Dalam hal ini yang dilakukan adalah Melatih, Mendampingi, Memberi Kesempatan.
Dari tidak merasakan menjadi merasakan
Puncak dari setiap pembelajaran adalah ketika kita sudah merasakan buah manis dari apa yang kita pelajari. Diantara upaya yang dapat dilakukan untuk menuju hal ini adalah dengan berbagai tips, bagaimana agar rasa manis itu di raih.
Jadi, untuk membumikan matematika dalam pandangan Budi, setidaknya ada 4 step yang harus dialami, yaitu tau, mau, mampu, dan rasa. (hl.12-13)